Sunday, March 18, 2012

Titip VS Oleh-oleh

Some people think if someone living abroad he does have a lot of money. Especially due to differences of exchange rate, where  Rupiah stay below other countries rate. So they should earn much and have a better living than people in Indonesah.
Does it really like that?

Well,  I will see this based on my friends 'curhatan' yg tinggal LN.
They stay outside Indonesah for many reasons; study, work, marry with local, and so on..
Whatever it is they have their own reason and live their own lifestyle.
Yes, maybe they earn more than average family in Indonesah, but the living cost also higher. Nah!

Capek ya bok bahasanya acakadul gini. *elap keringet*  Mari kembali ke selera asal.

Salah satu temen yang sekarang menetap di Yourope pernah ngeluh soal keluarganya yg di Indo seringkali merongrong dia untuk ngirimin duit. Ada aja keperluannya selalu dijadikan alasan, bahkan laptop baru pun seolah2 menjadi tanggung jawab dia untuk membelikan. Padahal dia hanya ibu rumah tangga yang ga bekerja dan baru punya satu anak. Saya ga tau suaminya kerja apa, tapi meskipun suaminya adalah seorang pengusaha, punya yacht dan rumah musim panas, tetep aja sungkan lah kalo istrinya minta duit mulu apalagi untuk keperluan keluarganya yang di endo. Bisa2 terjadi pertengkaran rumah tangga karena ini. Kasian kan.

Padahal tanpa dimintapun klo mereka ada rezeki pasti bakalan ngasih ke saudara atay keluarga terdekat kan? Dan pasti mereka juga punya priority, misalnya biaya pendidikan anakny yang masih kecil2.

Ada lagi temen saya yang males pulang kampung, karena bukannya enjoy menikmati liburannya malah capek harus keliling sungkeman keluarga besarnya yang ga cuma ada di satu kota. Kebayang ga sih harus keliling dari kota ke kota untuk nyamperin anak kakak kakek buyutnya hanya supaya ga dibilang sombong. Belum lagi repotnya bawa2 anak, belum lagi proses adaptasinya. Rencana mo liburan malah jadi stres.

Belum lagi masalah titip2an. Ga papa sih sebenarnya kalo barang yang dititipi itu adalah yang sangat URGENT-di Indo ga ada yg jual- misal obat jantung buat camer*ini penting agar lolos jadi menantu*- bisa deh kita cariin. Tapiiiii ada aja orang yang ga tau diri yang nitip dicariin knalpot tertentu. Situ pikir sini bengkel sparepart?? *rolling eyes*

To be honest, i have list priority dalam hal titip menitip, urutannya sbb : orang tua/mertua, saudara kandung/ipar, temen/saudara. Diluar itu, kya kenalan, temen sekolah yg dulu negor aja ga atau temennya saudara tiba2 mo nitip itu tergantung suasana hati saya mo ngebeliin atau nga. *songong*

Oiya, ini termasuk masalah oleh2 ya. Brubung saya tinggalnya ga jauh2 amat dari Indo, bahkan sebenarnya mo pulang tiap wiken juga bisa *tapi ga tahan capenya* jadi pembagian oleh2 ini hanya di saat tertentu aja misalnya ketika lebaran. Biar terlihat spesial dan berkesan. Tapi paling oleh2 yg diberikan khusus hanya ke setiap anggota keluarga inti dari pihak saya maupun pihak suami, dan teman2 dekat. Keluarga besar dari pihak saya maupun suami sekedar parcel dari twinnings atau royce. Meskipun sepertinya oleh2nya untuk keluarga besar ga personal tapi kan tujuan silahturahminya dapet. Ya nga? *maksa* Intinya semua insya Allah kebagian.

Jadi ko kayanya kalo ada yang maksain beli oleh2 untuk setiap orang yang dia kenal karena takut dianggap PELIT ko kasian amat ya. Bener deh hidupnya bisa ga tenang ya kalo harus dengerin omongan orang mulu. Padahal apakah orang2 itu peduli kalo kita pun sama harus bekerja keras dan juga harus menghemat untuk kebutuhan sehari2? (misalnya). Beneran ada loh yang seperti itu, demi gengsi dan supaya ga dicap sombong atau pelit. Yang kasian tentu saja anak2nya.

There is always a priority. For me family comes first.

Disclaimer : postingan ini murni celoteh sekelumit pikiran yg ga nyambung antara judul dengan isiny. No offense ya.. :)

No comments:

Post a Comment