Friday, June 08, 2012

A Guilty Pleasure


Disclaimer : Ditulis dalam keadaan labil akibat kerasnya kehidupan di kota besar.

Tau Becky  Bloomwood kan? Gadis modis di London yang sangat fashionable, smart, cheerful, beautiful. Only one her problem, she is a shopaholic!

Yup…  gara2 keobsesif-kompulsif-an dia yang berlebihan terhadap belanja, seringkali membuat dia terjebak dalam masalah keuangan. Well., meskipun pada akhirnya happy ending juga sih. (like other usual Hollywood stories)

Well she is lucky.

But… I am NOT
… Evenmore.. I’m dead!

Berada di tengah  kepungan huruf S.A.L.E seperti saat ini benar menggoda iman, apalagi kantor lokasinya di atas salah satu dept store ternama di Sing. Setiap ke bawah buat lunch mau ga mau ngeliat empat huruf itu terpampang besar2 di etalase gerai favorit. Saya sudah mencoba pake kacamata kuda dan belagak ga denger kalo temen ngomongin sale dionoh dan dimarih. Bukan apa2, soalnya saat ini memang saya sedang membatasi diri berbelanja mengingat liburan di depan mata. Kalo ga, ntar liburan masa nginyem doang di hotel???

I don’t want to end like Becky, trapped by debt. Membaca Becky yang begitu mudahnya beli baju2 padahal sebenarnya dia udah punya 5 jenis yang sama, sementara di satu sisi dia udah punya utang dimana2, itu bikin saya ngeri sendiri ngebacanya. Saya takut dengan pemikiran berbelanja membabi buta seperti itu. Mungkin saya cenderung moderate buyer ya, soalnya setiap saya ngeliat ada baju atau sepatu lucu, saya berpikir sejuta kali untuk beli. Will I need this? Bahannya bagus ga ya? Bisa dipake lama ga ya?

Yes.. I’m not a person who will go into latest fashion. Saya  beli baju karena nyaman dipakai bukan karena model paling mutakhir. Lemari baju saya masih bisa berbagi sama baju2 mas. Jadi kebayang kan sedikitnya baju2 saya. Makanya pernah saya ditegur seorang teman yang liat foto2 di fb, karena baju saya seolah2 yang itu2 terus. Hahaha!! ya mangap kalo saya lagi suka satu baju biasanya pake itu trus. Mungkin itu salah satu tanda bahwa saya tipe cewek setia? *evilgrin*

Sayangnya hal tersebut berbeda ceritanya untuk sebuah tas. Buat saya tas ga perlu mahal tapi harus bermerk. Yang bermerk belum tentu mahal kan? *ngeles*. Selera saya masih standar kok, belum Bottega (meski ngiler liat warnanya tapi ko ya sayang duitnya).  My passion for bag sama halnya kalo ke gerai bagian anak… semuanya terlihat lucu dan jadi PENTING untuk dibeli.

I tot, I was still in control.

..... But, I was wrong.

Honestly, 3 pairs kid's shoes in a month? 6 branded bags in half year? Is it still normal?
Buat saya yang ga terlahir dengan memakai sepatu berlian, bekerja dan menabung sesen dua sen untuk bisa membeli RD. Rasanya kok ada yang salah ya? Something like… a guilty pleasure. Something that you enjoy so much, its relaxing, but you feel guilty later.

Mungkin karena semua yang saya beli tanpa credit card (Dari dulu saya ga pakai CC dan ga percaya dengan konsep menghutang. I don’t like owe people’s money)  tapi langsung debit dari rekening, merupakan rem tersendiri buat saya.  Nyesek soalnya kalau liat saldo hasil total kerusakan yang terjadi.

My evil side said; you deserve this, its okay, you can earn more, your saving is still in safe amount. 
but somehow, i couldn't agree. Cos i know, i should safe more, i should give more to others not only thinking about myself. 

Well, I guess, people should now when it’s time to say enough it’s enough. As long you already fulfill your basically needs and not in a debt! Perhaps…perhaps it’s still tolerable if you spend little more money time for this ‘guilty pleasure’. *pasang kacamata kuda lagi*


1 comment:

  1. aiahahahaha....gue juga baru aja ngepost soal belanja.

    gapapa belanja asal gak kelewatan sampe ngutang gak bisa bayar *sekalian nyari pembenaran*

    ReplyDelete