Thursday, October 11, 2012

Differences are Beautiful


Kemarin disini sempat gempar, semua media online dan cetak membahas status fesbuk yang ditulis seorang wanita dibawah ini.

image from this link

I found this very rude and arrogant. Apakah semua orang hanya bisa nikah di gedung/hotel?  Meskipun kenyataannya kalau acara pernikahan warga melayu yang biasa diselenggarakan di bawah HDB berisik dan ramai, *belum pernah ngerasain tetangga nikahan dan ngadain dangdutan semalam suntuk ya?* trus apa bedanya sama warga Cina yang juga sering mengadakan peringatakan kematian atau bakar2 kertas, berisik dan bau asap malah. Tapi ga ada kan yang complain? Siapakah kita yang harus mempertanyakan keyakinan yang mereka percayai? 

Semakin diperparah dengan kenyataan bahwa komentar itu ditulis oleh seseorang yang berpendidikan *c'mon...using the f word??* dan mempunyai kedudukan tinggi di salah satu public service di sini, Singapur, Negara dimana tiga budaya besar, tiga ras utama hidup berdampingan. Ga heran banyak yang tersulut esmosi dan mengutuk  wanita itu. Eniwei… saya juga ga heran ketika reaksi dari atasan wanita itu adalah memecatnya. Di Singapur pemerintahnya sangat menjaga supaya tidak ada hal2 yang memicu kerasisan dan menyebabkan kerukunan yang selama ini terjadi lalu rusak begitu aja.

Hal yang seharusnya juga diterapkan di Indonesia. Masih ingat kasus mengerikan 98? atau tragedi  berdarah Sampit? Percikan dan kerusuhan yang terpicu dari perbedaan keyakinan yang dipeluk. Seandainya toleransi beragama dan bersuku benar2 diterapkan dalam kehidupan sehari2 dan bukan hanya pengisi materi dalam buku PPKN pasti akan lebih nyaman hidup di Indonesia.

Kadang tanpa disadari kita merasa superior dan menganggap bangsa kita lebih  baik dari bangsa yang lain. Hanya karena tarian daerah kita lebih indah, batik kita lebih cantik, atau bangsa ini ngototan, bangsa itu beraroma tubuh ga sedap. Pernahkah merasa jadi korban rasis? Aku pernah. Sekali, dua kali di negara yang katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia, tapi ternyata masih ada yang rasis. Hanya karena warna kulitku berbeda dan pake kerudung. Ga enak rasanya ketika diremehkan. That’s why I don’t want to do it to other person.

Ketika kami pindah ke Singapura, kami kembali menjadi orang asing. Sebagai pendatang kami belajar mengenal dialek disini dan meski sampai sekarang tidak begitu cocok dengan masakan disini, kecuali chicken rice. Tapi mau ga mau kami harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan disini. Ini cara supaya kami bisa menyatu dengan masyarakat sekitar. Mas mengajar Bahasa Indonesia ke orang lokal, di tempatku  bekerja aku bertemu dan bergaul dengan staf lain yang penduduk asli singapur, kami masukan Keisha ke sekolah lokal.

Walaupun Mas sempat kawatir Keisha akan terikut dialek singlish karena kita masukkan Keisha ke sekolah lokal. But I said its okay, it’s the way she can mingle to her friends, as long she can also talk in proper English. Dengan Keisha bersekolah di lingkungan multicultural, dia akan bertemu teman2 dan guru2 yang berbeda dengan dirinya. Tapi aku harap dia bisa belajar untuk menerima dan berteman dengan siapapun tanpa membeda2kan warna kulitnya, matanya, atau bahasanya. Just like a rainbow, differences are beautiful.


3 comments:

  1. Hai mba Dessy ,,, jadi pengen ikutan komen hehehhehe jadi inget waktu juli lalu k SG dan pas bgt ad kenalan suami yg merit di bawah HDB di bedok iyah sih emang jd rame gt tp kan gk akan mengalahan dangdutan atau apalagi klo di tempatku masih jaman yg wayangan semalam suntuk hihhihi

    salut buat atasan si cwe itu ya mba mereka dsana sangat menjunjung tinggi kedamaian yah hmm,,, semoga indonesia bisa kaya gt juga suatu saat nanti *jujur pesimis aku* biar gk usah lah itu yang SARA2 jadi rame :p

    ReplyDelete
  2. Hi dinda, menurutku juga dsini sih berisiknya masih taraf wajar. Belum tau dangdutan diindo sih ya. hihihi..
    amin...aku berharap sih smoga pemerintah di Indo bisa lebih tegas menghadapi pihak2 yg sering memicu sara tuh. gerah liat berita di tivi.

    ReplyDelete
  3. Mari kita pites pites itu si Amy!!! Geblek banget itu orang!! Sebenernya, gue itu suka kesel juga loh kalo misalnya orang nikah di blakang rumah gue dangdutan ria, padahal lingkungan di sini 50:50. Tapi menurut gue, itu merupakan keriaan tersendiri buat pasangan yang menikah dan keluarganya. Emangnya ada jaminan juga kalo nikah super mewah di hotel, terus nggak cerai? Nggak selingkuh? Heran ada orang Singaparna yang model begitu.

    Kalau di Indonesia, kasusnya lebih parah lagi. Sebagai minoritas, brasa banget pressurenya. Mulai dari kesulitan diterima di universitas negeri padahal prestasi di sekolah udah bagus, sampai yang extreme macem pilkada DKI kemaren (bahkan sampai sekarang si FPI aneh) yang nolak si Ahok jadi wagub.

    ReplyDelete