Saturday, February 22, 2014

Selintas Sejarah

Gegara status mba Jihan tentang kisah dibalik G30S PKI yang disebut dalih pembunuhan massal, jadi nyasar ke suatu link dan nemu bukunya Soebandrio. Beliau salah satu tokoh penting di era Soekarno dan yang mengalami sendiri peristiwa sebelum, ketika dan sesudah peristiwa tersebut.

Ada yang masih inget film G30S PKI yang selalu ditayangkan setiap malam 30 September? Waktu kecil saya nonton dengan rasa ngeri ngeliat aksi Gerwani yang menyilet2 para jenderal yang diculik. Terpaksa dulu saya nonton karena diwajibkan dari sekolah, meskipun sambil ketakutan dan terkantuk2 karna filmnya lama banget. Sejak itu yang saya tau ya PKI itu jahat =kejam=tidak beragama.

Belakangan saya tau kalau film itu hanya rekayasa, doktrinasi orde baru. Sebenarnya ya memang para jenderal itu dibunuh tapi ga pake aksi silet2an. Berdasarkan dokter yang mengautopsi sama sekali ga ditemukan tindak kekerasan di tubuh para jenderal itu.

Sampai disini saya hanya sekedar tau dan tidak mencari info lebih lanjut kenapa orde baru sampai harus bikin film penuh bumbu2 intrik?

Balik lagi ke buku Soebandrio yang merupakan menlu terakhir di pemerintahan Soekarno, orang terdekat Bapak no.1. Setelah baca buku ini saya jadi melek siapa sebenarnya dalang di peristiwa fenomenal itu. Siapa sebenarnya yang menderita dari kejadian itu? Saya ga menampik ada nyawa 7 jenderal yang terbunuh, tapi apakah wajar jika dibalas dengan nyawa 3 juta warga Indonesia yang merupakan anggota PKI, atau yang cuma dituduh, disangka, atau hanya sekedar simpatisan, para buruh tani yang ga bisa baca tulis dianggap berkomplot merencanakan pembunuhan 7 jenderal besar? Mereka dieksekusi tanpa pengadilan hingga keturunannya ikut merasakan imbasnya, susah mendapat pekerjaan.

Apa tujuannya dari peristiwa itu? Apalagi kalau bukan ambisi seseorang yang ingin memegang kekuasaan tertinggi di Indonesia, dan akhirnya menjabat selama 32 tahun. Selamat ya. Walaupun caranya sungguh licik memutar balikkan fakta dan kejam dengan memusnahkan 3 juta rakyat Indonesia, saudara2nya sendiri, hipokrit bermuka dua.

Berkat beliau pula korupsi sangat mengakar di Indonesia. Ya gimana nga, pemimpin tertingginya aja udah korup, gimana bawahannya ga ikut2an? Soal korup, sewaktu masih menjabat sebagai Pangdam Diponogoro aja beliau sudah bersekongkol melakukan penyelundupan ilegal dengan pengusaha Liem Soe Liong. Ga heran yaa... Sudah dari dulu toh ternyata.

Maaf, masih kebawa esmosi. Semalaman ngebaca e-book ini sampai jam 1 pagi. Saya bukan pemerhati sejarah dan bukan pecinta politik. Sama sekali nga. Cuma cerita ini menyentuh sisi kemanusiaan saya saja.  3 juta orang dibunuh loh, itu manusia bukan ikan. Tanpa sengaja pun terbersit di pikiran saya, mungkin Indonesia ga akan sekorup dan sebobrok ini kalau pemimpinnya tegas dan bersih.

hufft..fiuh... mari berdoa saja untuk negeri tercinta. Semoga makin banyak pemimpin2 seperti Ibu Risma, Pak Jokowi dan Pak Ridwan Kamil yang tulus membangun negerinya.

Baiklah curhat hari ini sampai disini.. mari kembali ngobrolin soal popok, breastpump, dan sekolah anak lagi. :p




6 comments:

  1. sesuka2nya gua ama film horor dan film2 sadis semacem saw, tapi gua paling serem nonton g30spki. soalnya rasanya surem2 depressing gimana gitu... hahaha

    ReplyDelete
  2. Memang org itu kalo udah jahat banget mah ngga ngerasa jahat, yg ada sibuk senyum sana sini. Makanya aku ngga respek bgt lah sama keturunannya yg borju2, ga pengen kepo-in keturunannya yg hidupnya dikelilingin duit, karena gak pengen ngilangin org yg menderita demi dia jadi sekaya itu

    ReplyDelete
  3. dulu sempet punya tetangga,,disangkain anggota pki, sampai harus melarikan diri dari rumahnya,,berbulan-bulan baru kembali,bisa selamat karena akting jadi orang gila..

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. dulu sempet punya tetangga,,disangkain anggota pki, sampai harus melarikan diri dari rumahnya,,berbulan-bulan baru kembali,bisa selamat karena akting jadi orang gila..

    ReplyDelete
  6. Dan orang2 keturunan Tionghoa jadi sering dimusuhi itu juga salah satunya karena kejadian itu. Seringkali juga dipersulit untuk ngurus macem2 dokumen (dulu ya, sekarang mendingan dikit), cuma karena warga keturunan. Padahal situasilah yang membuat kita jadi begitu, gara-gara si penguasa itu memeta2kan kita.

    ReplyDelete