Friday, October 31, 2014

Daftar SD Keisha (Primary School Registration)

Sebenarnya butuh kesiapan mental untuk menulis ini, karna urusan pendaftaran SD Keisha sangat menguras energi, pikiran dan esmosi. Sudah pengen curhat tentang ini dari kemarin2 tapi mau nunggu hasilnya keluar dulu biar lebih pasti, dan dua hari lalu surat keputusannya baru keterima. Setidaknya agak lega karna akhirnya sekolah Keisha sudah ditentukan, walaupun kemudian timbul persoalan baru.

Iya, Januari tahun depan Keisha seharusnya akan masuk Primary School. Mix feeling antara terharu bahagia dan kawatir campur aduk jadi satu.. anak bayik yang dulu nyanyi cicak2 didinding bentar lagi naik bis sekolah sendiri. How time flies.... *elap airmata* Tapi romansa detik-detik menjelang lepas anak bayik ke bangku sekolah ga bisa berlama2. Ada yang lebih penting,yaitu; Daftar Sekolah ke mana??

Menentukan sekolah terbaik untuk anak kita bukan hal yang gampang, apalagi status kita yang masih foreigner disini. Sementara ga sanggup juga masukin ke International School yang bayaran pertahunnya bisa 40 ribu SGD sajah. Bisa sih..kalau kita numpang tinggal di gudang sekolahnya dan makan bubur pake lobak setiap hari.

Sebagai skill worker foreigner kita ga punya priviledge untuk milih sekolah yang kira2 visi misinya sesuai dengan kita, atau apakah karakter sekolah itu akan cocok dengan si anak. Bagaimana dengan aktifitas sekolah dan guru2 disana. Pertimbangan2 itu nomor kesekian deh. Yang utama, gimana anak kita bisa sekolah di sekolah local dan ga jauh dari rumah. Period.

Sebelum pembukaan pendaftaran, kami pernah mengikuti open house sekolah incaran dekat rumah. Sebut aja sekolah A. Kami pilih sekolah ini terutama karna jarak sekolah yang dekat dari rumah, fasilitasnya bersih dan memadai, aktifitas sekolahnya banyak yang positif. Sekolah A walau bukan the most top school tapi dia menggambarkan semua itu dan kita udah rencana nanti mau daftar kesana.

Ada lagi sebenarnya sekolah yang lebih deket ke rumah, benar2 tinggal nyebrang sampe. Sekolah B ini favorit banget, top school. Bahkan ada yang pindah rumah supaya bisa masuk sekolah B. Oiya, salah satu prioritas yang menentukan bisa masuk sekolah disini adalah jarak. Semakin dekat rumah <1km anda="" berapa.="" besar="" bisa="" chancenya="" chart="" dengan="" dimana="" foreigner="" ini.="" itu="" itutuuuh..fase="" jelasnya="" kelas="" lebih="" liat="" masuk="" p="" sekolah="" semakin="" setelah="" terakhir.="" tergantung="" tersebut.="" untuk="" warga="">


Di daerah kami tinggal ada 12 primary school. Yang paling dekat sama rumah kami ya sekolah A&B itu. Sekolah B si top school setelah pendaftaran tahap 2B aja sudah penuh slotnya. Padahal itu baru tahap seleksi anak2 Singaporean yang orang tuanya jadi volunteer di sekolah.

Untuk proses registrasi primary school ini diadakan secara serentak dan diatur oleh MoE (diknasnya sg). Untungnya hasilnya selalu diupdate di website diknas. Dari situ kita bisa tahu berapa yang daftar dan slot kursi di sekolah tinggal berapa. Kerjaan aku tiap hari ya mantengin website itu buat ngeliat sisa slot sekolah yang diincar tinggal berapa sambil berdoa semoga sekolah A masih ada slot. Sayangnya kenyataan  berkata lain, baru sampai di tahap pendaftaran untuk PR, slot di sekolah A langsung habis. M-a-u-n-a-n-g-i-s rasanya.

Paniklah kita dan mantengin website itu lagi nyari sekolah yang memungkinkan. Kalau diliat dari kemungkinan sekolah di daerah kita yang tersisa cuma ada dua sekolah. Sekolah C dan D, masing2 masih ada 100an slot. Tapi jarak keduanya 5 km dari rumah. Jauh, but no choice. Menentukan harus daftar kemana saja sampai diskusi ulet sama Arief. Masing2 punya pilihan sendiri, sementara karna ini fase terakhir pendaftaran kami hanya punya sekali kesempatan untuk daftar dan HANYA bisa ke satu sekolah. Akhirnya setelah berbagai pertimbangan, kita sepakat untuk daftar ke sekolah C.

Apakah sudah bisa tenang?
Belum. Selesai submit aplikasi di sekolah C, kami masih harus menunggu kabar dari diknas dan itu baru keluar hasilnya November. Walaupun sudah daftar kesekolah itu, ternyata belum pasti 100% anak kita bisa masuk sekolah ini. Karena yang menentukan lagi2 diknas.
Padahal kalau ngobrol sama temen2 lain dulu waktu mendaftarkan anaknya di phase 3, udah bisa ketauan tuh diterimanya atau ga. Tahun ini sepertinya pendaftaran untuk foreigner berbeda dengan tahun2 sebelumnya.

Gimana ga keriting cobak nunggu keputusan sampai dua bulan lebih. Aku sampai ga bisa tidur mikirin ini. Nerves abis. Apalagi ketika temennya temen cerita kalau dia baru dapat surat dari MOE, dan anaknya keterima sekolahnya di distrik lain, 6 stasiun mrt dari rumah. Makin stress!

Kami cuma bisa berdoa semoga hasilnya yang terbaik untuk semua. Ketika akhirnya surat itu datang dan membaca hasilnya. Ternyata pilihan sekolah dari Diknas untuk Keisha bukan sekolah C atau D, melainkan sekolah E yang selama ini kami tidak pernah terpikir untuk kesana karna jarak dari rumah sekitar 8km. Makin jauh dari pilihan kami...:((

Sebenarnya bukan kualitas sekolah yang kami kuatirkan. Arief sebagai staff M*E juga berulang kali bilang kalau disini semua sekolah bagus, kurikulumnya sama, guru2nya dapat pelatihan yang sama, fasilitas dan prasarananya pun sama. Pas kami liat website sekolah E juga terlihat bagus dan menenangkan. Hanya sajaa, aku cuma mikirin jarak dan waktu tempuh yang dibutuhkan untuk pp ke sekolah. Soalnya disini sekolah masuk jam 7.15 pagi, sementara jam 6 baru subuh. Dengan kondisi kami yang ga bermobil, anaknya mau diantar jam berapa kalau sekolahnya jauh?

Sebenarnya mungkin aku yang paling ga siap untuk menghadapi kehecticyan dan kekrengkian pagi2.  hufft.. Please be nice to us January next year.

2 comments:

  1. yah moga2 nanti lama2 bisa terbiasa sama schedule nya ya...

    ReplyDelete
  2. Pukpuk makk.. Smoga nti bisa beradaptasi dgn jadwal baru yahhh..

    ReplyDelete