Wednesday, September 30, 2015

Alea, 2 Years Now!



She is no longer a baby but still too petite to be called as a toddler. Yaa udah gen-nya sih ya, mau diapain lagi. 2 years, means welcome toilet training, terrible two and the tantrums, good luck with 'sapih menyapih".

Yeesss Alea masih nenen sampai sekarang, don't know until when. Walau sudah ga seintensif dulu buat Alea sekarang nenen lebih ke comfort thing dan biasanya sebelum tidur (makanya selalu  nolak kalau disuruh bisnis trip, ga tega ngebayangin bocahnya nangis2). Arief sempet ngusulin ngasih brotowali untuk menyapih, tapi sayanya juga masih belum siap sih kalau Alea udah ga butuh saya lagi. Walau kadang capek pulang kerja langsung ditodong nenen, tapi bonding ketika menyusui itu luar biasa sekali rasanya.

No fancy birthday cake nor expensive presents. Birthday cake Alea cuma homemade bikinan Arief, no creamy cake atau chocolate cake. Berhubung Alea ga suka cake yang manis2 dan sukanya buah2 segar bahkan cenderung asem, biar siap menghadapi asamnya kehidupan ya, Nak?. Dibuatlah kue2an sesuai ciri kepribadian Alea (bikin kue atau baju ya?)


Reaksi anaknya pas liat tumpuk2an buah malah ketawa2 sendiri, trus pegang2 anggur, taruh lagi, pegang blueberry trus taruh lagi. Gitu trus. Ditawarin makan ga mau, pas mau disimpen di kulkas ga boleh. Sayang ya mau dimakan. hahaha..


Happy birthday Alea sayang... Semoga kamu selalu sehat, ceria, menjadi anak yang tangguh dan bijaksana. Hope your life will be as fruitful as your birthday cake, -sweet, juicy, sour (cos having sweets are sometimes boring) colourful, and lovely. We love you and always have you in our pray.


 
Salah satu perubahan signifikan dari ulang tahun yang kedua ini adalah, kalau mudik naik pesawat budget sudah harus bayar full. Ouch!
 


Tuesday, September 15, 2015

Si Anak SD aka Primary One - Bagian 1

Punya blog pake judul nama keluarga tapi milestone penting anak nya ga dicatet. Gimana sih ibunya? *tutupmuka

Baiklah, demi menutupi perasaan bersalah mari ditulis cerita si anak gadis yang per Januari kemarin resmi masuk Primary School. Fyi, disini term sekolahnya dimulai dari Januari.

Singkat cerita setelah dari potingan tentang proses masuk SDnya yang penuh perjuangan, kami dapat undangan dari pihak sekolah untuk mengikuti orientasi sekolah di bulan November. Orientasi ini merupakan ajang perkenalan bagi si anak dan orang tuanya dengan kultur sekolah, guru2nya, ada tour keliling sekolah, sekaligus untuk mengurus pembelian buku, seragam anak2 atau yang membutuhkan jasa bis sekolah.

Pas orientasi saya menyempatkan untuk menginspeksi toiletnya -yang cukup bersih, tapi ga ada tisu tersedia, dan ketika seminggu setelah sekolah berlangsung saya cek masih belum ada juga, saya kirim email ke kepala sekolahnya. *trus dibilang kiasu sama temen singaporean*facepalm* Fasilitas sekolahnya lumayan lengkap ada playground, hall, 2 lapangan, art room, music room, math room, library, ada hydroponic garden. Sayang seperti layaknya primary school pada umumnya, kelas2nya natural ventilated alias tanpa AC.

Kesan selama orientasi sih bagus ya. Kami hanya survey melalui website resmi sekolahnya dan baru datang langsung pas orientasi. Karna jarak sekolah ini yang jauh dari rumah, kami gak terpikir untuk ikut Open House School yang biasa diadakan sekolahnya menjelang pendaftaran masuk. Mau tanya2 ketetangga dan teman juga percuma karna rata2 anak2 mereka masuk sekolah yang dekat2 dilingkungan kami. Dari browsing2 juga ga ada satupun yang menyebut review sekolah ini, kayanya disini ga terbiasa me review atau menceritakan aktifitas sekolah anaknya ya. Ih padahal review itu berguna sekali loh buat orang tua kiasu seperti saya yang mau tau kualitas sekolah tersebut dan  kegiatan2nya.



 



kantin yang murah meriah dan halal 
Namanya jadi foreigner di negeri orang ya. Sudah terima nasib ajalah sekolah anaknya dipilihin sama kementrian. Jadi dilempar jauh juga telen aja, yang penting sekolah. *ketawa miris*.  Saya pernah coba untuk pindahin Keisha ke sekolah yang lebih dekat kerumah. Tapi belum apa2 sudah ditolak begitu tau status kami yang waktu itu masih foreigner. Katanya keputusan kementrian sudah final dan dari pihak sekolah sendiri pun ga bisa bantu.
Setidaknya hasil dari orientasi sih sekolahnya terlihat bagus jadi sedikit lega, dan lagi2 Arief  meyakinkan kalau semua sekolah di singapur ini kualitasnya sama.

Total biaya masuk sekolah Keisha kemarin kurang lebih 300 SGD untuk buku dan seragamnya. Alhamdulillah SD disini ga ada uang pangkal gedung atau biaya ini itu. Yeay ga perlu nyairin reksadana! Kita cuma perlu bayar uang sekolah perbulan yang bisa didebet langsung dari tabungan orang tua yang besaran uang sekolah perbulannya tergantung status kewarga negaraannya. Untuk Singaporeans malah cuma perlu bayar $13 perbulan!



source from here
Bagi seorang siswa SD kelas 1 buku wajibnya Keisha banyak banget! Saya sampai kaget pas dikasih daftar panjang buku dan perlengkapan aja saja yang mesti dibeli. Pulang dari orientasi bahu saya pegal karna harus menenteng puluhan buku Keisha yang tebal2. Yang bikin salut setiap buku ini dilampirkan dengan sampul plastik yang ukurannya sudah disesuaikan dengan lebar dan panjang bukunya. Proses sampul menyampul ini jadi mudah dan cepat. Sampai takjub loh dengan kedetilan orang singapur soal ini, kirain kita harus potong2 sampul sendiri.




Berlanjut edisi 2.... pegel tangan ngetik bok...

Monday, September 14, 2015

Barang Bekas, Yay or Nay?

Baru-baru ini baca sebuah artikel yang menarik, "I went 200 days without buying anything new and learned how toxic our need for possessions is". Jadi si penulis menceritakan pengalamannya membereskan benda peninggalan ayahnya yang baru saja meninggal. Saking banyaknya barang ayahnya dia perlu waktu berminggu-minggu sampai semua selesai.
Dari situ dia mikir ko banyak banget ya barang2 yang sebenarnya ga perlu2 amat dibeli. Mubajir gitu lah ceritanya. Jadilah si penulis punya ide untuk ga beli barang2 baru selama 200 hari (kecuali groceries dan medicine ya) dan alih-alih ke mall dia pergi ke thrift stores.

Wow... Could I survive 200 days away from the mall?

Tentu saja tidaakkk!!
Gimana mau menghindari, kantor aja diatas mall. Tiap mau keluar makan siang atau pulang pasti lah ngelewatin mall. Makanya bahaya banget pas lagi season sale, mesti pake kacamata kuda kalau nga mau bangkrut. Setidaknya pas weekend diusahakan aktifitas outdoor sama anak2 jadi hampir jarang banget ke mall. Walaupun gara2 haze melanda singapur terpaksa deh mesti ngemall lagi pas weekend (alesan).

Walaupun hidup tanpa mall total 100 persen kayanya belum bisa dan belum kepikiran untuk menjalani hidup secara frugal... Tapi ada benernya juga sih kalau kita tuh gampang banget ngebelanjain sesuatu yang sebenarnya ga penting, atau sengaja dipenting2-in.
Hayoh siapa yang beli kaftan karna alasan idola kita pake itu, padahal kita sudah punya 3 kaftan yang hampir sama persis? Atau beli sepatu lari model terbaru padahal dirumah sudah ada 5 pasang padahal lari aja sebulan sekali? *ngacung pelan2*

Kadang kita bisa mudah dibujuk dengan komen "bisa PO, sis!" atau "beli aja, jkos (jangan kaya orang susah)" dan biar dianggap mampu (walaupun yakin sih pasti mampu beli 10 bijik sekalian) akhirnya beli deh.

Padahal..padahal...menurut artikel di link itu, menahan diri untuk ga belanja barang2 baru bukan sekedar "Wants VS Needs", atau gaya hidup frugal living, atau beda tipis antara hemat dan ga punya duit.

"We were destroying the planet for future generations, all so that we could enjoy a short lifetime full of material possessions that in many cases were hardly used, rarely necessary and easily forgotten."

Nyadar gak sih lama kelamaan bumi kita penuh dengan barang2 bekas yang sudah outdated atau bahkan belum kepake sama sekali. Sementara kita masih tetap kepengen membeli ini itu. Semakin banyak konsumen yang membeli, akan semakin banyak barang yang diproduksi. Sementara teknologi, mode, style pasti selalu berubah. Baru juga tahun kemarin beli aiphon seri 6 sekarang sudah muncul aiphon seri terbaru, misalnya.

Kenapa saya tiba2 concern ke hal ini? karna baru beberapa bulan lalu mengalami pindahan rumah. Proses pindahan rumah yang terakhir ini sangat melelahkan jiwa dan raga. Rumah kami yang baru jauh lebih kecil dari rumah yang lama, ga akan ada tempat untuk menampung semua barang2 kami yang secara ga sadar bertahun2 kami beli dan timbun. Proses packingnya sampai berminggu2 karna kami harus memilah barang2 yang akan dibawa, disumbangkan, atau dijual atau dibuang. Secara emosional sangat melelahkan apalagi jika benda tersebut punya kenangan khusus, tapi mau ga mau harus rela disumbangkan  atau bahkan dijual karna buat kami sudah tak terpakai lagi.

Belum lagi barang2nya Keisha, setiap perintilan mainan dan benda2nya mesti saya tanya Keisha satu2 untuk diputuskan apakah harus dibuang, disumbangkan atau disimpan. Saya harus menghargai pendapatnya tentu saja. Diskusi yang sangat alot dan penuh argumentasi, belum lagi kalau anaknya drama nangis bercucuran air mata untuk sebuah mainan dari happy meal.

Dari proses packing pindahan itu banyak yang saya temukan misalnya satu kotak peralatan bento yang baru terpakai beberapa kali atau cupcake tier yang terbeli 3 tahun lalu tapi ga pernah dipakai sama sekali (akhirnya saya jual sih). Dari situ saya jadi kapok untuk beli benda2 secara impulsive yang belum tentu terpakai dan berjanji untuk ga gampang membeli sesuatu. Arief tentu saja mendukung saya 100 persen, dia kan emang jarang2 beli macem2. Sementara buat anak2 (Keisha terutama) sudah lama memang kami hanya membelikan mainan di Hari Lebaran dan pas ulang tahun, untungnya sejauh ini Keisha ngerti.

Saya kurang tau ya di Indonesia ada konsep thrift stores atau gak, tapi disini ada Salvation Army yang menerima donasi barang2 untuk dijual kembali dengan harga yang sangat murah. Ini sifatnya sosial sekali. Selain itu ada juga di portal gumtree atau carousell yang bisa didownload appsnya. Sekarang kami seringnya mencari dahulu second nya disini. Kemarin waktu pindahan kami pakai aplikasi ini untuk jual barang2 tak terpakai kami tapi masih sangat bagus kondisinya. Lakunya cepat sekali dan banyak yang offer. Selain jualan banyak juga yang kami beli second dengan harga sangat miring, seperti child seat bicycle CO-pilot yang harga aslinya $100an lebih di toko, kami bisa dapat dengan harga $25 masih mulus dan bagus. Atau beberapa mainan Alea juga saya beli second dengan harga murah. Selebihnya sih kalau memang ga perlu2 banget saya memutuskan untuk ga beli.

Mungkin ada yang geli dan ga terbiasa dengan konsep "second". Karna istilah second itu terkesan bekas orang, padahal kalau barang2nya dicuci/dibersihkan berkali-kali sebelum dipake bakalan aman kok. Atau ada perasaan "ih kaya ga mampu beli baru aja", ehm ajakan ini sebenarnya bukan karna mampu atau ga mampu ya. Tapi balik lagi ke link diatas, we need to think about our earth. Sebisa mungkin mengurangi andil memenuhi bumi ini dengan sampah barang2 tak terpakai demi anak cucu.

Barang baru wanginya beda. :) iyaa..ngerti kok. Saya juga ada beberapa hal yang lebih suka baru, misalnya tas. Wangi kulit barunya menenangkan sekali ya. :) Tapi saya belinya juga setahun sekali tergantung bonus suami, ooh dan tas itu bisa diwariskan ke anak cucu. Hahahah..

Kalau masih belum bisa menjalankan 200 hari tanpa beli barang baru gapapa. Saya juga belum bisa kok. Mungkin targetnya jangan yang langsung ekstrim kali ya, tapi misalnya dengan coba nyari alternatif barang second, dan beli barang barunya setiap 2 bulan sekali? No? Ok,..1 bulan sekali? :)

Thursday, September 10, 2015

Pengajuan Australia Visa di Singapore

Baru balik dari submit visa di AVAC. Ternyata proses submit aplikasinya ga serumit ngisi formulirnya. :)) Sekarang untuk aplikasi visa Australia, NZ, UK dan Canada sudah bukan lagi di embassynya masing2, tapi melalui AVAC.

AVAC ini seperti lembaga yang menerima dan mengecek kelengkapan dokumen visa applicant. Walaupun rencana liburan kami masih 2.5 bulan lagi, tapi sengaja kami apply sekarang pas libur sekolah anak2. Because to lodge in visa application each applicant has to come personally to provide his/her biometric identity. Termasuk anak2 dan bayi sekalipun. Jadi..daripada mesti izin2 sekolahnya Keisha untuk apply visa mending langsung sekarang aja lah mumpung liburan sekolah.

Sisi baiknya sekarang pengamanannya ga seketat di embassynya dulu yang sampai berlapis2 setiap tamu di screening. Tadi malah nyangkanya hp dan tas bakalan dititipin diluar, jadi kita sedia buku2 cerita dan kertas gambar buat anak2 mewarnai selama nunggu didalam. Apalagi demi anak2 duduk manis selama nunggu antrian visa. Tapi ternyata setelah diperiksa tas boleh dibawa masuk, cuma hp aja yang perlu dimatiin.

Petugas counternya juga ramah2 ga ada yang jutek dan sok galak. Dokumen kita diperiksa trus disuruh bayar deh. Prosesnya cepet ternyata, ga sampe sejam selesai. Mungkin karna kita datangnya juga pagi2 ya belum terlalu ramai.

Ada mutu ada harga ya, total visa fee nya lebih mahal dibanding 3 tahun lalu. Sedih... Service visa yang cepat, ramah, dan tidak mengintimidasi ini juga belum menjamin kalau visa kita bakalan diapprove, karna yang memutuskan ya kedutaan negaranya masing.

Anyway... proses visa selalu deh bikin deg2an. Semoga kali ini juga lancar dan cepat diapprove visanya. Amiin!

Update : Sudah disapprove!! Prosesnya cuma 2 hari ternyata, diluar weekend dan public holiday. WOW! benaran ih ada harga ada kualitas, less deg2an pastinya. Alhamdulillaah!! Tinggal browsing2 ngerapiin itinerary. Yeay!

Wednesday, September 09, 2015

Alea Nowadays

Baru nyadar hampir ga pernah cerita soal Alea, bersamaan juga dengan lamanya blog ini hiatus.

Baiklah ini rekapan si anak kelinci nomer dua yang dua minggu lagi ulang tahun ke-dua.
* I hope you wont get lost cos too much number two in this sentence*



Alea, Al, Alex, atau kadang Lala (bayik ini manggil dirinya sendiri) hobinya manjat2, ga bisa diem, adore her big sister (Keisha) so much, seneng jalan2. Tiap liat kita pake baju rapih dia langsung ambil sepatunya sendiri dan pake sendiri, trus jalan keluar rumah. Anaknya ga betahan dirumah. Tiap hari harus ada jadwal ke playground, kalau ga bisa uring2an ga jelas. Sementara kalau udah di bus bisa anteng duduk menikmati pemandangan.



Kelincinya sampe stress kandangnya diinvasi bayi

17 bulan bisa masukin small beads ke tali. Padahal itu mainan kakanya buat bikin kalung2an jadi lobang beadnya kecil banget, tapi herannya dia bisa sendiri tanpa bantuan kita. Paling aku cuma bikin simpul aja diujung tali biar beadsnya ga keluar lagi.
She looove play with water, enjoy playing in the beach. Definitely Rahmans kids lah ga takut air.



baby soo serious
Dengan kemampuan motoriknya yang cepet banget berkembang ga heran badannya mungil2 aja padahal makannya banyak dan diboost vitamin segala. Saya sudah pasrah lah kalau BBnya belum nimbus angka 10kg walau udah mo 2 tahun. Yang penting sehat dan kata dokter masih normal. Mungkin ada hubungannya dengan ga minum sufor, karna sampe sekarang Alea masih nenen aktif. Belum tau kapan bakalan disapih,baik ibu dan anaknya kayanya belum siap. hahahaha...




Listikkuuu! >.<
Baru bisa lancar ngomong pas 20-21 bulan. Sebelumnya cuma bisa nunjuk2 kalau mau sesuatu atau nangis. Lambat yah, sampe kawatir sangat dan periksa ke dokter kawatir anak ini agak  berbeda. Tapi Alhamdulilah dokter bilang normal dan memang ada anak yang lebih cepet kemampuan fisiknya dulu baru bahasa. Disarankan supaya kita sering2 ajak ngomong Alea dan ga pake bahasa bayi.

Bener aja sih tiba2 udah bisa ngomong banyak aja. Kosakatanya antara lain;
No, mama, kaka, nenek, nenen, eek, bau, bobo, mandi, basah, cantik, sepeda, sepatu, panas, mamam,  minum, duduk, mana, sakit, byebye, lagi, piano, bubble, ball, balon, lampu, flower, playdough, strawberry, banana, tomato, burung, cat, dog, fish, duck, pig, bear, horse, gosok gigi, gigi, kaki, pipi, eyes, nose, tangan, mouth, ear, rambut, baju, celana, hat, tv, henpon, bus, car, baca book, triangle, heart, star, square, moon, red, yellow, blue, black, green, orange, purple, pink.

Lumayan banyak yah? Padahal baru juga 2-3 bulan yang lalu mulai pintar ngomong. Selain sudah mengenal shape, color, Alea juga sudah kenal beberapa huruf, seperti : "O", "A", "B", "E",

Pardon us for this inconsistency of teaching her language. Kadang Arief ngajarin dalam bahasa inggris, saya dalam bahasa indo, atau sebaliknya. Yah gtu deh. mungkin ini sebabnya Alea telat ngomong karna dia bingung dalam kondisi dwibahasa begini.

She loveee fruits, like blueberry, strawberry, kiwi, banana.
Her favourite animal is burung. :) she love to laugh, running and catching, or play hide and seek. She is so loveable and complete our family perfectly.


 
 
 
 

Tuesday, September 08, 2015

Kerepotan saat ini

disponsori oleh...

Nyiapin berkas2 dan ngisi formulir visa yang banyaknya sampai 17 halaman. *kretekin tangan* Questioner data diri cari jodoh juga ga gini2 amat loh deh dibanding formulir visa negara tetangga. Belum lagi harus nyiapin semua dokumen2 pendukung dari bank statement sampai surat keterangan bekerja. gosh...  Belum lagi satu halaman essay khusus disediakan untuk additional information. Informasi  tambahan apa sih yang sebenarnya perlu untuk diketahui.

Mungkin akan saya tulis;
"Traveling around the world has been my dream all the time. So if you kindly decide to give me visa to your country. I will be very very grateful and your country will stay forever in my heart. I promise not to littering or illegal parking while in your country. Sincerely yours."

Kalau lagi begini jadi mengutuki system diplomasi negara kita yang jalan ditempat. Terobosannya cuma bebas visa masuk Negara kita. Ada 30 Negara yang bisa bebas visa masuk Indonesia, tapi yang resiprokal bebas visanya sejauh ini cuma Jepang. Ironis amat.

Ga usah muluk2 sih harapannya untuk bebas visa, kalau kita ga perlu isi formulir ini dan tinggal klik e-visa juga udah cukup senang. Sedihnya ketika warga negara Zimbabwe aja bisa apply visa secara online ke Negara ini, sementara pemegang paspor hijau hanya bisa apply secara langsung untuk finger print dan nyerahin semua bukti yang menjamin kalau kita disana ga bakalan nyusahin pemerintahnya.

Semakin sebel karna sekarang aturannya berubah lagi dari 3 tahun yang lalu, malah semakin ribet dan mahal. hfft.. Note to myself, better check visa conditionnya dulu kali ya sebelum memutuskan pergi ke suatu tempat.

Pray hard supaya paspor hijau bebas visa 2016. Ameen!

Thursday, September 03, 2015

Tahukah kamu

.. manfaat membawa bekal ?

Hampir sepanjang umur saya, dari sejak SD (karna memory pas TK saya sudah ga ingat) hingga sampai sekarang di dunia kerja, saya selalu bawa bekal makanan. Menurut saya sih bawa bekal itu justru banyak keuntungannya. Harusnya ada program "Dukung Gerakan Membawa Bekal Makanan" karena sayangnya masih banyak yang menganggap sebelah mata masalah perbekalan ini, dengan alasan ribet atau malu bawa bekal ke sekolah. Entah malu dianggap ga mampu jajan diluar, atau malu ga terlihat keren karna mesti bawa2 kotak makan siang.

Percaya ga, saya bawa bekal dari sejak SD gara-garanya setiap saya jajan dikantin, besoknya saya langsung sakit demam dan amandel bengkak karna terlalu sensitive dengan kebersihannya. Sementara teman2 saya yang lain bisa dengan santainya jajan es kebo dan sehat2 aja tuh.

Walaupun dulu sempat kesal karna "dipaksa" mamah yang nyelipin bekal ke tas sekolah. Sekarang akhirnya jadi kebiasaan yang ditularkan ke orang2 serumah. Arief misalnya, setiap hari selalu bawa bekal ke tempat kerjanya. Keisha sejak masuk SD padahal kami kasih uang jajan loh, tapi dia malah memilih untuk bawa bekal dari rumah. Katanya dia lebih suka makanan dari rumah daripada yang dijual di kantin. Well lets see sampai kapan dia bertahan ga jajan dikantin. hihi...

Berikut nih alasan-alasan kenapa orang2 mesti mulai membawa bekal makanan dari rumah.

1. Lebih sehat. Udah pastilah masakan rumah lebih terjamin kualitasnya dibanding jajan pinggir jalan. Asal bekalnya jangan isi mie goreng tiap hari ya. Itu mah sama aja. Porsinya juga bisa diatur, mau sedikit atau banyak nasinya. Buat yang lagi program diet juga malah bisa atur menu sendiri dan menjaga program nya tanpa cheating karna tiba2 tukang gado2 ga lagi jualan dan jadinya mau ga mau terpaksa makan nasi padang.

2. Hemat! Ga bisa dipungkiri ya, bawa bekal jauh lebih murah daripada jajan dikantin. Buat saya yang kebetulan kantornya dipusat kota dimana makanan dengan laukpauk 4 sehat plus minum setidaknya $10 ya lumayan juga. Kalau dari segi itung2annya, $10 x 24 hari = Energy boost Adidas. Ini namanya cerdas dan penuh perhitungan!

3. Efisien. Sering bingung mau makan apa, dimana, sudah direstoran tapi ga tau mau pesen apa. Atau bahkan malas keluar untuk beli makan. That's me! *tunjuk tangan* Apalagi yaa disini mana ada OB/OG yang bisa dititipin beli pecel ayam di warung ayam penyet. Sementara kerjaan lagi ribet2nya bikin tambah malesss buat keluar cari makanan. Bawa bekal, No Worries! Oh satu lagi keuntungannya ga perlu keluar beli makan siang, kulit muka aman ga kena sinar matahari jam 12 siang yang lagi jahanamnya.

4. Menu beragam. Dulu waktu hamil Alea, berbulan2 ga bisa bawa bekal. Karena saya ga sanggup dengan aroma makanan dari bekal yang ditenteng selama perjalanan kekantor. Tau kan sensor penciuman derajat kesensitifannya naik 10 tingkat kalau lagi hamil, plus selalu mual kalau cium bau makanan. Akhirnya mau ga mau jadinya jajan deh. Lama2 bosen juga dengan menu restoran/foodcourt yang di sekitaran kantor. Ayam penyet, soto, gado2, mie ayam, fastfood, balik lagi itu lagi. boceeen... saya kangen nasi rames...

5. Ajang kreatifitas. Sekarang udah banyak loh yang bekal2nya dibentuk seperti Bento2an. Lucu2 deh pernak perniknya. Jadi bikin semangat untuk makan. Salah satu food artist  @leesamantha awalnya dia iseng2 berkreasi dengan menu anak2nya, I love her version of "The Evil Queen" badewei, tujuannya sih supaya anak2nya tertarik mau makan sehingga hasil makanannya dipresentasikan secantik mungkin dan posting di instagram. Turned out ga cuma anak2nya Samantha yang suka tapi juga ribuan followernya.

6. Penyelamat keadaan. point ini buat saya sih. Kadang kalau diajak teman makan siang bareng, sementara orang tersebut rada geungges dengan obrolannya yang ga penting, saya suka beralasan bawa bekal. I know... It sounds so lame, but it works many time. :)

Ga bisa gaul? siapa bilang. Sometimes I also go out lunch with my friends, ga perlu strict2 amat kok harus ngebekal tiap hari. Have a good company at lunch is kind of refreshment before you go back battle with your work for the rest of the day.












Tuesday, September 01, 2015

It's been ages....

since I last wrote in this blog.

Setahun terakhir rasanya semua energi dan pikiran terlalu tersita dengan kehidupan nyata bahkan rasanya enggan untuk share personal life diblog. Seandainya adapun di instagram atau path yang paling foto anak2 buat keluarga di Jakarta. Hidup ko tenang amat ya rasanya, hanya kerikil2 kecil berserakan, kalaupun ganggu ya tendang aja. Ga bisa dibilang juga sih ga ada hinggar binggarnya dunia gw, yang aneh2 juga adaaaa.... Tapi sementara itu cukup dibahas di inner circle aja. *path kaliii* :))

Sempat kepikiran buat nutup blog ini, saking lamanya hiatus, sementara hasrat untuk nulis ga kunjung tiba. Tapi kok sayang dengan cerita2 lama dan foto2nya. Walaupun isi blog ini kebanyakan remeh temeh nya daripada informatifnya.

Tapi lama2 kangen.. kangen mo nulis, kangen mo babbling ga penting tanpa peduli ada yang mo dengerin atau gak, kangen sama perasaan plong ketika selesai nulis. Kangen duduk diam sambil merenung dan menuangkannya lewat tulisan. Hidup ko rasanya gini2 aja ya kalau ga "produktif".

Sampai akhirnya terketuk untuk nengokin blog ini lagi. Bersih2 dan ganti cover biar ga bosen, ganti headtitle biar lebih termotivasi buat nulis.

OH ini artinya, tulisan ini menjadi postingan pertama di tahun 2015. Hurrah!