Monday, September 14, 2015

Barang Bekas, Yay or Nay?

Baru-baru ini baca sebuah artikel yang menarik, "I went 200 days without buying anything new and learned how toxic our need for possessions is". Jadi si penulis menceritakan pengalamannya membereskan benda peninggalan ayahnya yang baru saja meninggal. Saking banyaknya barang ayahnya dia perlu waktu berminggu-minggu sampai semua selesai.
Dari situ dia mikir ko banyak banget ya barang2 yang sebenarnya ga perlu2 amat dibeli. Mubajir gitu lah ceritanya. Jadilah si penulis punya ide untuk ga beli barang2 baru selama 200 hari (kecuali groceries dan medicine ya) dan alih-alih ke mall dia pergi ke thrift stores.

Wow... Could I survive 200 days away from the mall?

Tentu saja tidaakkk!!
Gimana mau menghindari, kantor aja diatas mall. Tiap mau keluar makan siang atau pulang pasti lah ngelewatin mall. Makanya bahaya banget pas lagi season sale, mesti pake kacamata kuda kalau nga mau bangkrut. Setidaknya pas weekend diusahakan aktifitas outdoor sama anak2 jadi hampir jarang banget ke mall. Walaupun gara2 haze melanda singapur terpaksa deh mesti ngemall lagi pas weekend (alesan).

Walaupun hidup tanpa mall total 100 persen kayanya belum bisa dan belum kepikiran untuk menjalani hidup secara frugal... Tapi ada benernya juga sih kalau kita tuh gampang banget ngebelanjain sesuatu yang sebenarnya ga penting, atau sengaja dipenting2-in.
Hayoh siapa yang beli kaftan karna alasan idola kita pake itu, padahal kita sudah punya 3 kaftan yang hampir sama persis? Atau beli sepatu lari model terbaru padahal dirumah sudah ada 5 pasang padahal lari aja sebulan sekali? *ngacung pelan2*

Kadang kita bisa mudah dibujuk dengan komen "bisa PO, sis!" atau "beli aja, jkos (jangan kaya orang susah)" dan biar dianggap mampu (walaupun yakin sih pasti mampu beli 10 bijik sekalian) akhirnya beli deh.

Padahal..padahal...menurut artikel di link itu, menahan diri untuk ga belanja barang2 baru bukan sekedar "Wants VS Needs", atau gaya hidup frugal living, atau beda tipis antara hemat dan ga punya duit.

"We were destroying the planet for future generations, all so that we could enjoy a short lifetime full of material possessions that in many cases were hardly used, rarely necessary and easily forgotten."

Nyadar gak sih lama kelamaan bumi kita penuh dengan barang2 bekas yang sudah outdated atau bahkan belum kepake sama sekali. Sementara kita masih tetap kepengen membeli ini itu. Semakin banyak konsumen yang membeli, akan semakin banyak barang yang diproduksi. Sementara teknologi, mode, style pasti selalu berubah. Baru juga tahun kemarin beli aiphon seri 6 sekarang sudah muncul aiphon seri terbaru, misalnya.

Kenapa saya tiba2 concern ke hal ini? karna baru beberapa bulan lalu mengalami pindahan rumah. Proses pindahan rumah yang terakhir ini sangat melelahkan jiwa dan raga. Rumah kami yang baru jauh lebih kecil dari rumah yang lama, ga akan ada tempat untuk menampung semua barang2 kami yang secara ga sadar bertahun2 kami beli dan timbun. Proses packingnya sampai berminggu2 karna kami harus memilah barang2 yang akan dibawa, disumbangkan, atau dijual atau dibuang. Secara emosional sangat melelahkan apalagi jika benda tersebut punya kenangan khusus, tapi mau ga mau harus rela disumbangkan  atau bahkan dijual karna buat kami sudah tak terpakai lagi.

Belum lagi barang2nya Keisha, setiap perintilan mainan dan benda2nya mesti saya tanya Keisha satu2 untuk diputuskan apakah harus dibuang, disumbangkan atau disimpan. Saya harus menghargai pendapatnya tentu saja. Diskusi yang sangat alot dan penuh argumentasi, belum lagi kalau anaknya drama nangis bercucuran air mata untuk sebuah mainan dari happy meal.

Dari proses packing pindahan itu banyak yang saya temukan misalnya satu kotak peralatan bento yang baru terpakai beberapa kali atau cupcake tier yang terbeli 3 tahun lalu tapi ga pernah dipakai sama sekali (akhirnya saya jual sih). Dari situ saya jadi kapok untuk beli benda2 secara impulsive yang belum tentu terpakai dan berjanji untuk ga gampang membeli sesuatu. Arief tentu saja mendukung saya 100 persen, dia kan emang jarang2 beli macem2. Sementara buat anak2 (Keisha terutama) sudah lama memang kami hanya membelikan mainan di Hari Lebaran dan pas ulang tahun, untungnya sejauh ini Keisha ngerti.

Saya kurang tau ya di Indonesia ada konsep thrift stores atau gak, tapi disini ada Salvation Army yang menerima donasi barang2 untuk dijual kembali dengan harga yang sangat murah. Ini sifatnya sosial sekali. Selain itu ada juga di portal gumtree atau carousell yang bisa didownload appsnya. Sekarang kami seringnya mencari dahulu second nya disini. Kemarin waktu pindahan kami pakai aplikasi ini untuk jual barang2 tak terpakai kami tapi masih sangat bagus kondisinya. Lakunya cepat sekali dan banyak yang offer. Selain jualan banyak juga yang kami beli second dengan harga sangat miring, seperti child seat bicycle CO-pilot yang harga aslinya $100an lebih di toko, kami bisa dapat dengan harga $25 masih mulus dan bagus. Atau beberapa mainan Alea juga saya beli second dengan harga murah. Selebihnya sih kalau memang ga perlu2 banget saya memutuskan untuk ga beli.

Mungkin ada yang geli dan ga terbiasa dengan konsep "second". Karna istilah second itu terkesan bekas orang, padahal kalau barang2nya dicuci/dibersihkan berkali-kali sebelum dipake bakalan aman kok. Atau ada perasaan "ih kaya ga mampu beli baru aja", ehm ajakan ini sebenarnya bukan karna mampu atau ga mampu ya. Tapi balik lagi ke link diatas, we need to think about our earth. Sebisa mungkin mengurangi andil memenuhi bumi ini dengan sampah barang2 tak terpakai demi anak cucu.

Barang baru wanginya beda. :) iyaa..ngerti kok. Saya juga ada beberapa hal yang lebih suka baru, misalnya tas. Wangi kulit barunya menenangkan sekali ya. :) Tapi saya belinya juga setahun sekali tergantung bonus suami, ooh dan tas itu bisa diwariskan ke anak cucu. Hahahah..

Kalau masih belum bisa menjalankan 200 hari tanpa beli barang baru gapapa. Saya juga belum bisa kok. Mungkin targetnya jangan yang langsung ekstrim kali ya, tapi misalnya dengan coba nyari alternatif barang second, dan beli barang barunya setiap 2 bulan sekali? No? Ok,..1 bulan sekali? :)

No comments:

Post a Comment