Tuesday, October 13, 2015

Book Review : "Thousand Splendid Suns"

Di post 'Book Review' saya akan mereview buku-buku yang sedang/pernah saya baca secara regular . Buku terpilih merupakan rekomendasi berdasarkan pilihan dan selera saya. Ga harus buku serius mungkin saja saya akan mereview novel chic lit misalnya. :) Oh ya, review ini bukan bermaksud jadi spoiler ya, Jadi saya hanya akan menceritakan sebagian dari buku tersebut saja.


----------------------------------

"Thousands Splendid Suns"
by Khaled Hosseini









The book:

Buku ini menceritakan kisah dua wanita yang berbeda generasi dengan latar belakang Afghanistan. Kisah cerita ini dimulai dari Mariam, seorang 'harami' yang tinggal berdua dengan ibunya. Ayah Mariam sebenarnya adalah seorang kaya raya tapi karena dia sudah punya 3 istri lain dan ibunya hanya seorang pembantu maka ayahnya tidak bisa menikahi ibunya. Ketika ibunya memutuskan mengakhiri hidupnya, Mariam menjadi sebatang kara hingga diambil oleh ayahnya. Tak lama ayahnya menjodohkan Mariam yang saat itu berusia 15 tahun dengan Rasheed, pria yang jauh lebih tua darinya. Kehidupan pernikahan ternyata tak seindah yang dibayangkan Mariam. Rasheed yang temperamental dan gampang melayangkan tangan apabila Mariam tidak memenuhi keinginan Rasheed. Apalagi setelah kegagalan mereka mempunyai anak lalu diperburuk oleh perang di Afghanistan.

Pertemuan Mariam dan Laila, gadis yang lebih muda dari Mariam awalnya saling membenci. Laila gadis sebatang kara yang kehilangan orang2 terkasihnya akibat perang. Tapi tekanan kepada para wanita Afghanistan, perang yang terus berlanjut, kemiskinan yang menghantui, membuat mereka lama2 menjadi sahabat dan saling mendukung satu sama lain.  Berkali2 mereka mencoba keluar dari Afghanistan tapi tidak berhasil dan bahkan berujung kematian.

My thoughts :

Saya termasuk telat baca "Thousands of Splendid Suns, padahal buku ini terbit di tahun 2007. Thousand Splendid Suns merupakan buku kedua Khaled Hosseini yang saya baca. Bedanya dengan buku pertama 'Kite Runner' walau sama2 berlatar belakang perang di Afghanistan, buku TSS lebih berkesan menurut saya. Mungkin karena tokoh utama dari cerita ini adalah dua orang wanita ditengah2 budaya patriarki yang kental, dimana wanita seolah2 hanya menjadi 'keset rumah' dan menjadi korban kekerasan rumah tangga.

Membaca buku ini tidak mudah buat saya. Bukan karna ceritanya tidak menarik, gaya tulisan Hosseini simple, mudah dimengerti tanpa kalimat bertele2, intensitas ada di alur ceritanya yang kompleks.  Justru typical Khaled Hosseini yang selalu membuat pembaca penasaran dan tidak bisa berhenti ditengah cerita. Ceritanya tentang kehidupan seorang wanita yang sejak lahir tidak diakui keberadaannya harus bertahan hidup meskipun suaminya menindasnya. Wanita di zaman rezim Taliban pun semakin sulit hidupnya, tidak boleh bekerja, tidak boleh bepergian sendiri, dan harus memakai cadar yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.

Selama membaca berkali2 saya harus meletakkan buku ini untuk sekedar menarik nafas, dan memejamkan mata. Buku ini sangat kelam, "dark", membuat saya depresi sekaligus membuat saya penasaran akan kelanjutan ceritanya. Perasaan sedih, frustasi, dan harapan bercampur aduk selama membaca ini.

Khaled Hosseini bisa mempermainkan perasaan para pembaca dengan tulisannya. Berkali2 saya pikir akan ada titik cerah untuk Mariam dan Laila, tapi ternyata ending ceritanya tidak seperti yang kita bayangkan.

No comments:

Post a Comment