Thursday, October 22, 2015

Dari Les Ke Les

Kemarin pas ngobrol sama teman kantor, dia cerita weekendnya melelahkan sekali. Sepanjang sabtu minggu kerjaan dia hanya antar jemput anak2nya dari les ke les. Ya judo, riding horse, balet. Kalau dia aja sampai mengeluh, apalagi anak2nya ya yang menjalani. Belum lagi ditambah dengan les2 pelajaran lain di hari biasa. Pasti sangat capek.

Saya berdecak ketika dia melanjutkan bahwa untuk membiayai les kedua anaknya, dia harus mengeluarkan $2000 sebulannya. Wih.. ga tau ya dia yang overrated atau memang apa adanya, tapi memang disini untuk satu jenis les rata2 feenya sekitar 100-200/bulannya.

Tetangga depan rumah saya, anaknya kelas 3 SD. Kalau weekend juga sama, anaknya pergi dari les ke les. Saya pernah ketemu seorang ibu dan anaknya di bus. Ngobrol2, ternyata mereka habis pulang dari les music dan sedang menuju les MPM math. Ini kejadiannya di hari sabtu. Saya perhatikan ternyata rata2 orang disini ya begitu, suatu hal yang wajar jika weekendnya diisi dengan kunjungan ke tempat les.

Saya sendiri juga baru mengalami hal yang sama. Dua minggu lalu sempat ngeluh ngerasa capeeek banget antar jemput Keisha. Pagi ngedrop dia madrasah, siang jemput, sorenya antar dia les renang plus nungguin sejam. Pulang2nya yang ambruk malah saya, langsung minum panadol dan teh anget. Sementara Keishanya sendiri tetap lincah dan happy. Luar biasa ya energi anak2.

Jadwal kejar2an gini baru dijalani sejak dua minggu nih. Biasanya sih ga begini. Satu hari hanya satu les untuk menjaga mood dan kesehatan anak juga kewarasan orang tuanya. Penting buat kami family  time untuk melakukan hal2 menyenangkan bersama-sama. Tapi ini bentrok karna les renangnya dimulai lebih cepat dan dihari yang sama dengan madrasah. Saya pikir gapapa lah untuk sementara, karna bulan depan madrasahnya akan pindah hari.

Saya sebenarnya pengen masukin Keisha les macam2, tapi suka ga tega. Kawatir anaknya kecapean dan malah jadi jenuh. Kadang suka merasa bersalah juga sih, daftarin Keisha les tanpa nanya dulu sama anaknya. Anaknya digiring aja suruh belajar sesuatu. Untung Keisha anaknya ga protesan dan mau aja disuruh les hampir tanpa drama. Malah kata guru2nya mereka senang sama Keisha karna dia selalu pay attention dan aktif di kelas.

Teman ada yang bilang ini demi kebaikan anak supaya dia bisa bersaing nantinya di dunia nyata harus dibekali dengan berbagai skill dan otak yang terasah.

Tapi... apakah supaya itu anak harus les dari pagi sampai sore? Berapa kali saya bertemu dengan anak2 secondary (setara SMP) dsini, yang baru pulang jam 8 malam masih dengan seragam sekolahnya, bawa tas gendut penuh buku. Jika sekolahnya masuk jam 7 pagi, berarti aktifitas mereka diluar bisa lebih dari 13 jam. Bahkan lebih lama waktunya dibanding jam kerja orang biasa dari 9 - 6 sore.

Bukan ga mungkin sih Keisha akan seperti itu juga nantinya. Biar gimanapun memang ga akan cukup hanya belajar dari sekolah dan butuh tambahan dari les2 diluar. Saya juga pengennya anak-anak nanti siap, mandiri dan tangguh menghadapi tantangan di dunia kerja ketika dewasa. Kami orang tua hanya bisa mensupport anak2 dengan biaya dan doa, sementara mereka berusaha semaksimal kemampuannya untuk mencapai impian dan cita2 mereka. Work hard now for work smart later.

Sebenarnya menjejali anak dengan berbagai macam kegiatan itu demi kebaikan si anak atau hanya ambisi orang tuanya sih? Gimana menurut kamu?


2 comments:

  1. sama lah kayak kita. sabtu itu full sama les-les-an. soalnya kalo weekdays gak tiap hari les nya jadi mau gak mau weekend.
    tentang anaknya cape atau gak, keliatan dari anaknya. kalo anaknya males2an les nya ya berarti cape atau gak minat ya sebaiknya jangan terlalu dipaksa. tapi kalo anaknya enjoy, ya why not ya. emang mahal banget, tapi kan itu nambah pengetahuan dan pengalaman. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener sih, kalo anaknya suka pasti semangat ikut les.

      Delete