Monday, October 05, 2015

Tentang Asap

Rasanya sudah bertahun2 lalu saya sempat ngebahas soal asap kebakaran lahan/hutan dan sebenarnya saya sudah ga mau lagi ngomongin soal asap disini.  But the haze is back, smog caused by slash and burning farming in Sumatra and Kalimantan forest. Worst it stays for weeks, almost two months and could be longer. Last Friday school here was closed due to the haze psi level increased to hazardous level, 300.

Anak2 sekolah happy tentu saja termasuk Keisha, yang bisa main seharian dirumah walaupun tetap saja sih ada tugas sekolah yang mesti dikerjakan secara online. Gak cuma di Singapura, Malaysia juga meliburkan sekolahnya dua hari, di Kalimantan dan Sumatra bahkan sudah sebulan meliburkan sekolahnya akibat kabut asap yang makin tebal.

Bisa dibilang ini kayanya waktu terlama asap kebakaran dari Indonesia mampir ke Singapura dalam level yang sangat mengganggu. Tentu saja Singaporean yang terkenal sebagai tukang komplen sudah ngomel2 ke pemerintahnya. Padahal pemerintah Singapura ini justru malah sigap dan serius banget soal haze ini. Dari yang bagi2 masker gratis untuk pioneer generation, info psi level per tiap jam,  sampai pendekatan ke pemerintah Indonesia. Kalau pemerintah Indonesia mau, dengan segera pemerintah Singapura bisa langsung mengirimkan pesawat hujan buatan ke lokasi kebakaran. Sayangnya pemerintah kita mungkin masih malu2 atau ga enakan jadi basa basi nolak bantuan. Bukannya langsung mengatasi sumber masalah, pejabat pemerintah yang terhormat malah melontarkan komentar2 yang ga bijak. Saya sungguh malu ketika teman2 Singaporean saya menyindir komentar si Bapak No. 2 RI.

Ya sama aja kaya punya tetangga yang senengnya tiap hari bakar sampah depan rumahnya, tapi asapnya masuk kerumah kita. Sekali dua kali negor tetangga tapi ga ngerti2 juga, malah kita yang diomelin si tetangga. Enaknya langsung bakar rumah tetangga aja kali ya.





Pernahkah terpikir jika Negara tetangga saja sudah mengeluh efek dari kebakaran hutan itu, bagaimana dengan jutaan rakyatnya di Negara sendiri? Ketika kami di Singapura terkena asap dengan psi 300 saja sudah mengalami sesak nafas, pusing, mual dan mata perih, bagaimana dengan Palangkaraya, Pekanbaru, atau Jambi yang psi levelnya hingga 1900, 6 kali lipat dari batas level hazardous-sangat berbahaya? Kami disini hanya 300, masih bisa menggunakan masker, menghindari aktivitas outdoor, dan menyalakan air purifier dan aircon 24 jam didalam rumah. Paling2 pe-ernya gimana supaya jemuran cucian aman tanpa aroma asap. Tapi ada kok deterjen tanpa bau apek untuk indoor drying. Masalah selesai? NOT.

Tentu saja yang sangat terimbas dampaknya adalah mereka yang di Kalimantan dan Sumatra. Saking tebalnya asap, jarak pandang hanya 10-50 meter, hingga bandara pun harus ditutup, akses kedalam dan keluar kota terputus. Saya ngeri membayangkan dengan psi setinggi 1900 bayi2 dan anak2 sesaknya seperti apa, ibu2 hamil mual nya seperti apa, bagaimana dengan binatang2 di hutan2 yang terbakar itu, mereka bisa lari kemana?

Ditambah lagi dengan adanya pemadaman listrik bergilir, yang memperburuk keadaan. Saya ga bisa bayangin seandainya dalam situasi tersebut, saya kemungkinan bisa cranky sangat dan mengutuki ulah orang2 tak bertanggung jawab yang menyebabkan kebakaran hutan. Mau mengadu pun kepada siapa. Pejabat setempat saja hanya menganggap kebakaran ini sebagai hal musiman yang biasa, pemerintah pusat malah sibuk mengomentari Negara tetangga supaya jangan terlalu lebai menyikapi asap.

Sungguh saya hanya bisa pasrah dan berharap musim hujan segera datang untuk memadamkan api di hutan. Saya hanya bisa menebalkan kuping ketika Indonesia dan terutama JK disindir2 seluruh rakyat singapura dan malaysia. Di channel news Singapore Bapak JK jadi trending news dengan komentarnya yang fenomenal, memenya banyak dibuat dengan panggilan sayang "Juju". Bahkan ada FB page sindiran khusus untuk JK "Thank you Indo for 11 months of Fresh Air".  *pasang masker untuk sembunyiin muka*
Di Koran internasional bahkan berita tentang kebakaran hutan di Indonesia sudah menjadi headline news, sangat kontras dengan media dalam negeri di Indonesia yang hanya menyinggung masalah kebakaran hutan ini sekitar 5 menit di berita pagi, dan bahkan hanya di running text. Ironis masalah kesehatan dan lingkungan hidup kalah penting dari berita pernikahan selebriti yang bisa berhari2 ditayangkan.

Sorry not sorry kalau saya ga nasionalis dan bukannya membela pemerintah sendiri. Saya lebih memilih untuk membela jutaan rakyat yang tersiksa karna asap, orang tua, anak dan bayi 15 bulan Nabila Julia yang meninggal akibat asap ini. Saya bukan siapa2 hanya seseorang yang menghargai pentingnya kebebasan bernafas sebagi hak asasi manusia paling dasar.

Seandainya pemerintah cepat tanggap dengan masalah ini, mengatasi secara efektif dan efisien pasti ga akan berlarut2 dan mengurangi penyebaran api. Seandainya pemerintah serius memberikan sangsi untuk perusahaan2 nakal dibalik kebakaran hutan ini, pasti musibah ini tidak akan terjadi setiap tahun.  Saya ga menutup mata kalau pemerintah sudah mencoba melakukan tindakan pemadaman. Tapi apakah pemadaman api secara manual dengan mengirim ribuan tentara ke ribuan hektar hutan yang terbakar adalah cara yang tepat? Bapak presiden yang terhormat, mungkin itu cara yang termurah. Tapi jutaan rakyat yang sedang sakit dan sekarat karna asap ini ga bisa menunggu lebih lama lagi. Bom air atau pesawat hujan buatan lebih efektif walau sangat mahal. Akan kah lebih baik jika uang Negara digunakan untuk kepentingan rakyat banyak dibanding memperbaiki gedung DPR.

Ah sudahlah... rasanya kalau diteruskan bisa panjang. Ini hanya curhatan emak2 yang ikut sedih karna ada seorang ibu di Jambi yang baru saja kehilangan bayi 15 bulannya gara2 asap ini.




4 comments:

  1. ya ampun sampe ada korban jiwa ya?
    kirain udah kelar masalah asap ini ternyata masih berlangsung ya..
    aneh juga ya indo kenapa gak mau dibantu. gengsi nya kegedean...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya udah cukup banyak korban jiwanya tapi ga ke-exposed. Info terakhir katanya sudah mau terima bantuan dari Singapura Man.. finally!!

      Delete
  2. Setuju bgt. Ini asap udah lemana2. medan jg kebagian dan makin hari makin tebal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduh stay safe mba. Semoga asapnya segera beneran hilang ya dan ga semakin berlarut2.

      Delete