Tuesday, May 31, 2016

Review : Apartemen di Gold Coast - Hi Surf Beachfront Resorts Apartments

Berhubung lanjutan cerita Osie trip mandek ntah sampai kapan, mendingan nulis review tentang apartemen kami selama liburan di Gold Coast.

Hi Surf Beachfront Resorts Apartement.

Sengaja memang cari serviced apartemen demi kenyamanan si anak kecil yang hanya bisa makan nasi dan sop, jadi kemungkinan besar akan masak memasak. Endonesah sekali memang. Tadinya mau stay kembali di apartemen yang dulu  Seacrest apartemen. Tapi kebetulan pas ditanggal kedatangan kami apartemen itu sudah fully booked. Pilihan akhirnya jatuh ke Hi Surf Beachfront yang terletak di area Surfers Paradise juga.

Untuk akomodasi sebenarnya kami memang lebih suka serviced apartemen apalagi kalau waktu travellingnya lebih dari seminggu. Mesti nyuci baju tsay... *domestic sekali alasannya*. Malahan kayanya di Australia justru kebanyakan menyediakan serviced apartemen,  yang diisi dengan fasilitas lengkap dan nyaman. Kurangnya cuma ga ada sarapan dan ga ada yang merapikan sprei setiap hari aja.

Kami pilih Hi Surf Beachfront karna selain ratenya yang masuk budget, terletak di depan surfers paradise tinggal nyebrang langsung laut, dan tampilan nya terlihat menjanjikan di foto-foto webnya. Namun...seperti biasa sebelum bepergian kami tidak mau terlalu banyak ekspektasi kawatir kecewa dan malah merusak mood liburan.

Tapi, ternyata Hi Surf bahkan diluar ekspektasi banget. Dari penampilan gedung apartemen-nya aja sudah modern dan well polished. Front officenya efisien dan langsung kasih kunci kamar ketika kami sampai. Seperti umumnya serviced apartemen di sini, front office apartemennya tidak buka 24 jam. Kalau ada yang late check in misalnya jam 12 malam, kuncinya ditaruh di safety box yang bisa diambil dengan menggunakan pin/sandi yang dikirim melalui email.

aku cinta dengan lobi apartemennya

Setelah proses check in yang no hassle, Arief ambil koper kami di mobil yang parkirannya juga gratis dari hotel. Ga sabar pengen selonjoran dari penerbangan berjam-jam. Pas buka pintu unit apartemen, ya ampuuun...luasnyaaaah!!! Jauh lebih luas dari Seacrest dan dengan view yang menghadap laut. Heavenly!

Kami menyewa satu unit dengan dua kamar tidur. Ternyata satu kamar tidur dilengkapi dengan kasur ukuran king size, dan kamar tidur satunya dengan double extra single size bed. Jadi bingung mau tidur dikamar mana, semua kasurnya empuk sekaliii...




Sementara anak-anak heboh minta mandi di bath tub. Memang anak saya ini kasian biasanya cuma berendam di ember, makanya pas ketemu bath tub seperti ngeliat kolam renang aja.

Sedangkan ibunya cukup bahagia melihat kamar laundry yang bersih dan luas, disertai dengan mesin cuci dan pengering. Sampai deterjen dan meja setrikaan saja disiapkan.


Lanjut tour berikutnya adalah ruang tengah dan dapur..


 
Dapurnya lengkap sekali loh, semua perlengkapan makan dan masak tersedia. Ada microwave, oven, kompor listrik, mesin pencuci piring juga ada. Paling kalau butuh  bahan makanan bisa beli di groceries store yang cuma jalan kaki 5 menit dari apartemen. Letak apartemen ini cukup strategis kok, cuma jalan 10menit sudah sampai di pusatnya Surfers Paradise, banyak restoran, café, dan perbelanjaan. Dibelakang hotel ini juga ada halte tram yang melintas, kalau mau keliling Gold coast dengan public transport yang murah bisa coba naik tram ini.

Nyuci piring sambil menikmati deburan ombak. Betah banget deh nyuci piring bekas kenduri massal


Tidur dininabobok-in dengan deburan ombak laut, bangun tidur nyeduh kopi sambil duduk-duduk di balkon liat orang lari pagi di pinggir pantai. Aku ga mau pulaaaaangggg...

Apartemen ini dilengkapi dengan outdoor dan indoor pool, Jacuzzi, sauna, dan playground. Yang semuanya ga bisa kami nikmatin karna terlalu banyak aktifitas diluar hingga sampai kamar cuma maunya bobok aja saking capeknya. Apakah ini artinya kami mesti kesini lagi *kode* Apartemennya bikin betah banget soalnyaaa.. :D

Secara apartemen di Singapur cuilik-cuilik banget karna keterbatasan lahan, pas disini serviced apartemen luasnya kaya lapangan hockey, bahkan lebih besar dibanding apartemen kami di Singapur yang seperti kotak sabun.  Pindah kesini aja apa yah pah? *colek suami*

Thursday, May 19, 2016

Dibalik Little Book Nest

Dari kecil saya suka banget baca, bahkan hiburan terfavorit di kala lagi liburan sekolah dulu adalah gramedia Citraland, yg sekarang namanya jadi Ciputra. Dulu mama saya biasa ninggalin saya di Gramedia berjam2 untuk baca buku gratisan sementara dia keliling ngemall. Saya sih ga keberatan sama sekali, malah super happy ketemu surga buku yang bisa dibaca sepuasnya walau kaki pegyel berdiri 4 jam cyiin..

Koleksi buku cerita juga lama kelamaan bertambah hingga ratusan buku dari hadiah orang-orang terdekat ataupun hasil nabung dari uang jajan tiap minggu. Hanya dengan memandang lemari yang berisi ratusan buku-buku saja, hati hamba rasanya bahagia sekali. Bolak balik dielus, disampulin plastic satu-satu, lemarinya dikasih kapur barus biar wangi dan awet. Sampai akhirnya iseng-iseng bikin klasifikasi buku sendiri ala-ala anak SMP trus kepikiran buat bikin penyewaan buku. Yang nyewa teman-teman dekat rumah/sekolah. Sayangnya rental bukunya cuma berjalan sebentaar banget, karna sayanya keburu kecewa duluan dengan banyak buku-buku yang ga balik atau lecyek dan sobek. Koleksi buku saya beragam loh, dari buku sejarah biografi, filsafat sampai komik pun ada.

Waktu kecil cita-cita saya jadi petugas library biar bisa pinjem buku sepuasnya. Udah gedean dikit cita-citanya naik dikit dong, pengen punya book café! Mulia sekali yah!

Lalu cita-cita impian menguap tertelan kesibukan mencari duit buat biaya nikah dan semakin hanya menjadi angan-angan belaka.

Alhamdulillah..masih suka membaca buku, walau setelah punya anak, genre buku bacaan favorit hanyalah buku fiksi dan buku anak. Buku anak bagus2 yah sekarang, malah saya jadi punya beberapa penulis buku anak favorit. Kebiasaan membaca buku pun saya tularkan ke anak-anak. Impian punya toko buku sendiri tetap ada dan tersimpan dengan rapih

Sejak berhenti kerja awal tahun kemarin, mulai deh kepikiran untuk beneran mewujudkan impian yang tertunda sekian lama. Berhubung masih newbie bikin usahanya juga kecil-kecilan, online book shop khusus buku anak-anak. Kenapa buku anak-anak? karena saya jatuh cinta dengan banyaknya buku anak-anak yang bagus, simple tapi bermakna. Selain itu saya jadi punya alasan ke suami kalau beliin buku buat anak-anak. "Buat sampel ini, Pah....."

Alhamdulilh Maret 2016 kemarin kesampaian launching akun online book shopnya @littlebooknest.
Online book shopnya masih mini, cuilik, dan bukunya juga belum beragam, malah kadang-kadang keburu dikekepin duluan diketek sama anak-anak dan ga jadi dijual. *niatjualankurangkuat* Beda jauhlah dengan ols buku-buku lain yang pengiriman bukunya sudah berkodi-kodi.




Sengaja memang ga ambil margin banyak2, malah kayanya jual buku cuma dapat untung pahala saja, karna sisi idealis saya mungkin ya, yang menganggap bahwa buku seharusnya ya bisa affordable untuk semua orang. Apalagi kesempatan untuk menimbulkan minat baca ke anak-anak ya sebaiknya sedari dini. Kalau terkendala karna mahalnya harga buku kok ya sayang banget padahal buanyaaak banget buku-buku bagus.

Oh dan walau sekarang banyak perpustakaan-perpustakaan dengan koleksi buku yang juga bagus-bagus. Pasti banyak yang setuju juga kalau rasanya beda dengan punya buku sendiri yang bisa dimiliki, dipajang, dilihat dan dibaca kapan saja.

Sempat maju mundur syantiek dalam proses lahirnya @littlebooknest. Alhamdulillah dapat banyak dukungan dari orang-orang terdekat termasuk kaka ipar yang bersedia jadi partner di usaha ini. Kaka ipar yang sabar dan easy going pas banget untuk ngurusin order dan meladeni pertanyaan yang masuk lewat watsapp. Klo saya sih kebagian yang enaknya sajah, belanja buku!

Hatur nuhun sangat dengan teman-teman yang sudah bersedia memfollow akun instagram @littlebooknest dan rela dibanjiri timelinenya dengan postingan buku-buku kami. Terima kasih juga yang sudah memberikan tanda "love" atau "like" di sosmed. Percayalah it means a lot to us. Ga perlu dishare atau repath, cuma dengan tanda "love" atau "like" saja sudah memberikan dukungan moril untuk kami. Sesama pedagang olshop mana suaranya????........

Alhamdulilah.. setidaknya satu wish list yang selama ini selalu ada di setiap pergantian tahun bisa dicentang. Semoga kedepannya bisa beneran bikin offline bookshop. Boleh minta Aminnya?

Yang lagi nyari buku anaknya kaka...mari mampir ke akun ig @littlebooknest nyaaah... bakal ada stock baru looh...Kami juga bisa PO buku anak yang ga ada dilist kami loh. Sayang anak..sayang anak.... *numpangjualan* :p






Monday, May 09, 2016

Salmon Teriyaki With Pineapple Sauce

Sekali-kalinya nih posting makanan di blog ini, semenjak ditinggal Mbak Asih si belahan hati, saya kembali memasak untuk seluruh keluarga. Sebenarnya dari semua pekerjaan rumah tangga yang paling saya hindari adalah memasak. Dari dulu sebel aja dengan prosesnya yang lama, potong ina itu, belum lagi bumbunya (tau sendiri kan masakan Indonesia yang selalu pakai rempah-rempah gemah rimpah meruah). Setelah selesai masak juga hati belum bisa tenang menikmati masakannya, dapat salam dari cucian piring segunung.

Makanya.... saya suka sekali dengan menu yang simpel2 ringkas cepat dan tangkas (macam sikap pramuka), seperti menu dibawah ini. Sengaja ditulis di blog supaya saya bisa intip kapan saja. Nyadar dengan keterbatasan memory otak yang belum diupgrade semenjak kelahiran anak kedua.

......................

SALMON TERIYAKI WITH SALSA SAUCE.

Resep awal dari @healthyfitnessmeal tapi saya modifikasi sesuai bahan yang ada.


Bahan :
Salmon fillet dilumuri lemon dan garam, lada hitam, dan oregano cacah (oregano aku tambahin sendiri karna sukaa dengan apapun dengan oregano)

Saos Teriyaki :
2 sdm kecap manis
1/4 cup air
11/2 sdm madu
1 sdt bawang putih cacah
1 sdt jahe cacah
1/2 sdt minyak wijen
2 sdt tepung maizena (karna ga ada aku ganti tepung ubi)

Pineapple Salsa :
1 cup nanas potong dadu kecil
1/4 cup bawang merah cincang
perasan lemon
3 chili padi potong kecil
(resep asli pakai jalapeno, cilantro)


Eksekusinya :

Panakan oven 170 derajat, masukan salmon kedalamnya.
Sementara itu buat teriyaki saosnya di panci kecil. Masukan semua bahannya kecuali tepungnya yang paling terakhir. Aduh hingga mengental.
Keluarkan salmon setengah matang, lumuri dengan saos teriyaki. Lalu masukan kembali ke dalam oven hingga bumbu meresap dan salmon matang.

Sediakan hangat dengan Pineaapple salsanya dan nasi putih.

Sebelum dimasukkan ke oven kedua kalinya











Wednesday, May 04, 2016

Ngigonya Lala

Postingan tentang Lala lagi. Jarang2 kan cerita soal Lala. 

Sejak Lala berhasil disapih, (tidak dengan weaning with love sih karna saya tidak sabaran). Anyway, tadinya saya pikir harusnya kan dia bisa sleep thru the night yah, karena ga perlu nyari kendi mamake lagi dan sementara dia juga nga mau nyusu botol. Harapannya sih bisa bobo cantik sambil menikmati resapan masker 11 steps. 

Ternyata harapan hanyalah khayan belaka. Lala sih memang ga minta nyusu lagi, tapi dia sering kebangun karna   ...................    ngigo!
Ngigonya bisa macem2, kadang sambil marah-marah, kadang sambil nangis-nangis, kadang pake jungkir balik segala, digendong ga mau, ditepok2 ga mau. Biasanya sih igauan dia dari reaksi aktifitas dia di siang harinya. 

Beberapa capturan igauan Lala

"Huhuhu...Lala akut naik car! huhuhuhu!! Lala ga mau!! akut naik car!"
---> jadi siangnya ke mall ada mobil2an yang pake koin, ngeliat anaknya seneng banget main mobil2an, emaknya masukin koin biar makin seru main mobilnya. Eh mobilnya nyala anaknya malah jerit minta turun. 

"Nooo Kakaaa!! Ini bukunya Lala!" tidur aja masih ngajak berantem kakanya...*rolling eyes*

"Tiktik unyi hujan diatas enteng." --- > ngigo nyanyi..

"Eeng..eenng.... huhuhu...peluk mamah.....", "Iya sini mamah peluk",..."Gendong mamah".......
"Iyah ini digendong mamah...."......"huhuhu...huhuhuh...huhuhu"... -gendong sambil goyang-goyang- "mo bobo ajahhh...." <---- div="" matanya="" merem..="">

"Lala mo painting!! Lala mo painting! huhuhuhu!" hedeh tengah malam kenapa minta painting sih nakk





 

Monday, May 02, 2016

Lala Dan Lulu

Si Lala sejak usia 2 tahun sifat kepemilikan terhadap sesuatu mulai muncul. Dia mulai bisa sayang pada suatu benda dan posesif banget terhadap benda itu. Akhir-akhir ini dia lagi suka banget sama boneka penguin kecil yang dikasih nama Lulu. Asal mula nama Lulu sih karna susah aja nyebut pinguin, dan biar satu rhyme dengan Lala jadi dikasih nama Lulu deh. Lala dan Lulu. as simple as that.

Kami mengadopsi Lulu dari toko suvenir didalam wahana Adventure Cove. Puas bermain air disana, kami melihat2 suvenir yang dijual, eh pas lagi liat2 boneka yang didisplay Lala ngambil boneka penguin dan minta dibeliin. Sejak itulah Lulu menjadi teman Lala.

Lala dan Lulu kemana2 selalu berdua. Main ke playground, nemenin Lala makan, main, atau ke pasar, ga pernah lupa si Lulu diajak. Bahkan sampai waktu tidur pun belum lengkap klo Lulunya belum dipeluk. Kalau pergi pun Lala ga pernah lupa ngajak Lulu. Bisa aja tuh pas udah rapi dan tinggal mau berangkat, anaknya mogok ga mau pergi dan nangis2 karna Lulunya ketinggalan.

Lala juga protes berat kalau ada yang ngambil Lulunya tanpa izin. Biasanya dia bakalan teriak dengan galak ke kakanya yang mau minjem Lulu buat mainan. Kalau lagi begitu akhirnya kakanya minta izin dengan baik-baik baru deh Lala (setengah hati) mo minjemin.

Anyway, waktu dulu Keisha masih kecil sih ga pernah ngalamin begini. Dia sempet suka banget sama Barney dan Ariel, tapi ya bonekanya ga sampe dibawa terus.
Sementara adeknya ini saking udah sering bawa Lulu kesana kemari, diajak main trus, boneka penguinnya jadi terlihat buluk, dekil dan ga putih lagi. Tapi Lalanya tetap suka dan sayang sama Lulu. Ada yang anaknya juga suka sama suatu benda dan selalu dibawa kemanapun? Share dong dsini.